Kamis, 17 Februari 2011

Nikah???????

Kampaaang! Menulis topik semacam ini semalam ini!

Well, i guess i'm freaking out. Huh. Beberapa temen saya sudah menikah, ya, meskipun saya percaya usia saya masih -sebenarnya- -menurut saya- terlalu muda untuk menikah, tetap saja. Menjadi minoritas tidak mudah.

Mau tahu apa yang saya bayangkan?

Mereka sudah punya anak, sudah memikirkan susu apa yang cocok di usianya yang ke-4, memilah-milah panci jenis mana yang mau dikredit, bunga warna apa yang cocok dipajang di ruang tamu, kapan liburan bersama mertua ke Phi Phi Island, asuransi apa yang kira-kira dibutuhkan untuk sang 'calon profesor'. Oooooh cheesy! Lame!

Siapa cheesy? Siapa lame?

Saya! Saya!

Saya memang sentimentil. Lalu kenapa? Salah ya kalau saya takut? I mean, menikah itu berarti kamu akan menghabiskan sisa hidupmu sampai tua bersama pasanganmu! FOR BETTER OR WORSE. Dimana kamu tidak akan pernah tahu, 'worse' ini makhluk apa.

Tuh, kan, apa lagi bentuknya sumpah. Kampaaaaang! *lagi

Selalu saja saya bertanya, "kenapa memutuskan menikah??" pertanyaan desperet itu lagi dan lagi dan lagi. Beberapa menjawab karena sudah menemukan 'rumah'nya, karena fase hidup sudah saatnya berganti, karena ingin menghemat biaya air PAM (oke, ini metaforis, sebenarnya artinya indah), bahkan beberapa memutuskan menikah karena.. eh nggak jadi ding. Rata2 memang karena sudah ketemu yang pas.

Naaaahh pertanyaan selanjutnya adalah, seperti apa sih orang yang pas ini?

Kalau buat saya sih, orang yang tampan, keluarganya nggak resek (pernah tuh ada yang resek, gara-gara saya diam saja di mobil mereka, lalu mereka mempermalukan saya dengan bertanya "kok diem aja? sakit gigi?" ya ampooon, sinetron banget ya, keluarga-keluarga jahat dengan anggota keluarga wanita beralis palsu dan berbedak tebal) amit-amit-jabang-bayi, wangi, bertanggung jawab, berlengan besar, sekali-sekali bisa jadi bad boy, punya pengetahuan dan selera musik yang bagus, dan beberapa kriteria finansial yang tidak terstandar. yang penting mah gajinya gedean dia daripada saya (ini logis lho, bukan matre, secara psikologis akan jelek kalau suami berpenghasilan lebih rendah dari istri).

Tapi yaaaa... Bagaimana dengan sifat? Pasti deh, selaluuu saja ada yang nggak bener. Menyimpang. Nggak cocok sama kita. Apa lantas kita pergi dan mencari yang lebih pas karena tidak bisa menerima kekurangan-kekurangannya? Ya nggak dong.

So... jawaban untuk pertanyaan "Seperti apa sih orang yang pas itu?" tadi adalah...


orang yang kita harapkan sebagai orang yang pas.

yang kita harapkan lho ya. highlight!

hei, kita tidak pernah tahu, kita kan cuma hoper hoper sejati!

oke. sangat menjawab. Tapi saya masih tetap bingung. Well, mungkin karena belum menemukan. Tapi kalau sudah menemukan tapi ragu, berarti dibilangnya masih bingung juga ya? Iya sih sama aja. Haaaahhhhh.

Kapan ya, mata kuliah 'who's the one' ini akan berakhir......


Hmmm... someday, sebelum anaknya Dayu masuk TK lah. Semoga. :)


*please God

Tidak ada komentar:

Posting Komentar