Senin, 02 Mei 2011

Dadan

Aku bertemu seorang pria. Tidak banyak yang bisa kuceritakan darinya. Well, kecuali kepribadiannya yang menarik dan caranya memperlakukan wanita yang lebih dari cukup untuk membuat wanita yang mementingkan hal-hal semacam itu jatuh hati. Senyumnya manis. Badannya cukup tinggi untuk ukuran pria Asia, dan dia memiliki tangan yang sangat nyaman untuk ditinggali. Pria ini bisa dikatakan pria biasa, yang membenci payung dan wanita-wanita pencemburu. Tentang perihal rayu merayu, dia mungkin tidak bisa dikatakan terbiasa dengan itu. Tetapi setiap kali aku memandang lurus matanya, aku selalu merasa sedang dipuja. Tulus. Ya, terlalu dini mungkin untuk mengatakan bahwa dia tulus. Tapi sejauh ini aku bisa merasakannya.
Akhir-akhir ini aku cukup sering menghabiskan waktu bersamanya. Melakukan hal-hal yang kusenangi bersamanya. Makan stik, merokok di pinggir jalan, minum bir sampai muntah, intinya beberapa malam kini menjadi tidak pernah sama tanpanya.
Sebenarnya aku tidak ingin terlalu cepat menganggapnya sesuatu untuk hatiku. Namun, seluruh isyarat yang kuterima kini merujuk bahwa aku mulai percaya padanya. Aku mulai membagi ruang yang selama ini pernah mampat oleh aku dan dia-yang-aku-tidak-ingin-sebut-namanya. Aku takut, suatu waktu aku mendapati seluruhnya adalah replika, pengulangan retorikal yang hanya berujung pada penyelesaian-penyelesaian semu dan cenderung merupakan delusionalitas pikiranku saja. Hhhh. Aku rasa aku harus sudah mulai terbiasa dengan rasa takut. Apa salahnya memelihara ketakutan-ketakutan bodoh ini dan berpura-pura berjalan sejajar dengannya. Intinya satu, bahwa aku tau dia tidak lebih dari sekedar rasa takut yang akan dengan mudah dihisap oleh kaum Harvester.
Dia. Aku sedang ingin terus membicarakannya. Dia yang sering sekali tidak percaya diri atas dirinya, dia yang mati-matian membenci durian, dia yang tidak terlalu pandai membaca perasaan wanita, dia yang selalu senang berada di antara orang-orang namun tidak keberatan untuk mengobrol berdua saja denganku akhir-akhir ini. Si perut gendut yang menyenangkan. Satu pertanyaan kritis darinya yang terus kuingat sampai sekarang "Sampai kapan aku akan bertahan dengan 'menyenangkan'?". Dan aku tertawa setelah mendengar pertanyaan itu. Halooo. Aku pernah begitu jatuh cinta dengan seorang bajingan yang bisanya hanya melempar verbal-verbal bernada tinggi ke mukaku dan melemparku ke tembok setelahnya. Seperti tidak tahu wanita saja kamu ini.
Sekali aku ke Bandung, kota tempat dia besar dan dibentuk dari segala sisi. Melihatnya berinteraksi dengan keluarga dan teman-temannya. Entah apa yang mendorongku untuk mengiyakan ajakannya. Intinya, sejak tanggal 20 April 2011, aku sangat memfavoritkan padanan kata 'entah apa'. Hhhh. Aku benar-benar tidak tahu bagaimana aku bisa terdorong untuk membuka hatiku lagi. Setelah kepayahan panjang yang kualami.
Ada sesuatu yang ingin kuceritakan. Tentang dia-yang-aku-tidak-ingin-sebut-namanya. Aku mungkin sudah melangkah jauh dari apa yang orang sebut 'garis tegas antara masa lalu dan masa kini'. Namun, mau tidak mau, harus kuakui bahwa dia-yang-aku-tidak-ingin-sebut-namanya ini, sudah merupakan bagian dari diriku. Aku sempat takut ketika sadar bahwa banyak sekali kemiripan antara dia-yang-aku-tidak-ingin-sebut-namanya dan dia. Tapi, siapa peduli. Manusia hidup menggilai momentum. Dan satu momentum dengan momentum lainnya, tidak pernah sama.
Mungkin aku mulai menyayanginya. Menyayangi manjanya. Menyayangi logat Sundanya. Menyayangi caranya memandang sesuatu. Menyayangi kemaklumannya yang total untuk mengizinkanku merokok. Menyayangi usahanya untuk selalu membuatku dipedulikan. Menyayangi pertanyaan-pertanyaannya yang terkadang terlalu banyak. Menyayangi keberadaannya.
Beberapa orang berkata ini terlalu cepat. Tailah. Tidak ada hal-hal semacam cepat atau lambat untuk memverbalkan velositas perkembangan perasaan. Yang jelas aku bahagia. Ya. Aku benar-benar bahagia.

Something is said, it sits in my head
It's been there too long, it's killing me slow
It's rolling around, it's pushing me down
It's keeping the good part of me closed

Can't you see that when I find you, I'll find me

Kamis, 17 Februari 2011

Nikah???????

Kampaaang! Menulis topik semacam ini semalam ini!

Well, i guess i'm freaking out. Huh. Beberapa temen saya sudah menikah, ya, meskipun saya percaya usia saya masih -sebenarnya- -menurut saya- terlalu muda untuk menikah, tetap saja. Menjadi minoritas tidak mudah.

Mau tahu apa yang saya bayangkan?

Mereka sudah punya anak, sudah memikirkan susu apa yang cocok di usianya yang ke-4, memilah-milah panci jenis mana yang mau dikredit, bunga warna apa yang cocok dipajang di ruang tamu, kapan liburan bersama mertua ke Phi Phi Island, asuransi apa yang kira-kira dibutuhkan untuk sang 'calon profesor'. Oooooh cheesy! Lame!

Siapa cheesy? Siapa lame?

Saya! Saya!

Saya memang sentimentil. Lalu kenapa? Salah ya kalau saya takut? I mean, menikah itu berarti kamu akan menghabiskan sisa hidupmu sampai tua bersama pasanganmu! FOR BETTER OR WORSE. Dimana kamu tidak akan pernah tahu, 'worse' ini makhluk apa.

Tuh, kan, apa lagi bentuknya sumpah. Kampaaaaang! *lagi

Selalu saja saya bertanya, "kenapa memutuskan menikah??" pertanyaan desperet itu lagi dan lagi dan lagi. Beberapa menjawab karena sudah menemukan 'rumah'nya, karena fase hidup sudah saatnya berganti, karena ingin menghemat biaya air PAM (oke, ini metaforis, sebenarnya artinya indah), bahkan beberapa memutuskan menikah karena.. eh nggak jadi ding. Rata2 memang karena sudah ketemu yang pas.

Naaaahh pertanyaan selanjutnya adalah, seperti apa sih orang yang pas ini?

Kalau buat saya sih, orang yang tampan, keluarganya nggak resek (pernah tuh ada yang resek, gara-gara saya diam saja di mobil mereka, lalu mereka mempermalukan saya dengan bertanya "kok diem aja? sakit gigi?" ya ampooon, sinetron banget ya, keluarga-keluarga jahat dengan anggota keluarga wanita beralis palsu dan berbedak tebal) amit-amit-jabang-bayi, wangi, bertanggung jawab, berlengan besar, sekali-sekali bisa jadi bad boy, punya pengetahuan dan selera musik yang bagus, dan beberapa kriteria finansial yang tidak terstandar. yang penting mah gajinya gedean dia daripada saya (ini logis lho, bukan matre, secara psikologis akan jelek kalau suami berpenghasilan lebih rendah dari istri).

Tapi yaaaa... Bagaimana dengan sifat? Pasti deh, selaluuu saja ada yang nggak bener. Menyimpang. Nggak cocok sama kita. Apa lantas kita pergi dan mencari yang lebih pas karena tidak bisa menerima kekurangan-kekurangannya? Ya nggak dong.

So... jawaban untuk pertanyaan "Seperti apa sih orang yang pas itu?" tadi adalah...


orang yang kita harapkan sebagai orang yang pas.

yang kita harapkan lho ya. highlight!

hei, kita tidak pernah tahu, kita kan cuma hoper hoper sejati!

oke. sangat menjawab. Tapi saya masih tetap bingung. Well, mungkin karena belum menemukan. Tapi kalau sudah menemukan tapi ragu, berarti dibilangnya masih bingung juga ya? Iya sih sama aja. Haaaahhhhh.

Kapan ya, mata kuliah 'who's the one' ini akan berakhir......


Hmmm... someday, sebelum anaknya Dayu masuk TK lah. Semoga. :)


*please God

Hmmm.

Sempat berpikir ingin berbagi satu rahasia di sini. Rahasia besar dan sangat buruk.

Lalu merasa konyol. Bodor sekali saya kalau malah menceritakannya pada benda sejenis blog. Memangnya tidak ada yang bisa menemukan blog ini dari email?

Bodor!

Tapi, saya benar-benar ingin membagi rahasia ini.

Kasihan memori otak saya, dia cari teman. Teman penyimpan yang lain.

Seandainya ada.

Dan seandainya tidak ada.

Pun.

Rabu, 16 Februari 2011

Seharusnya ini postingan pertama.

Kenapa blog ini bernama 'Tanpa Bicara'? Karena di sini, gue mau bebas nulis tanpa harus mikirin konsekuensi apapun.

Ya, meskipun selalu ada akibat dari sesuatu hal. Sebodo. Yang penting, at least, i expect i don't have to take any consequences.

Yes we believe in hoooope! \m/

Tentang mengandalkan orang lain.

Cerita lama. Tentang seberapa kecewanya gue kepada orang-orang di sekitar gue. Kadang-kadang gue mikir ini nggak baik ya, secara, mengeluh itu nggak menyelesaikan masalah sedikit pun. Tapi, apa boleh buat. Keadaan bikin gue mengeluh.

Contoh nih satu. Yang barusan gue alamin deh. Gue punya rencana buat bisnis bareng temen-temen. Ide ini sebenernya gue yang punya, berharap dapet sambutan, karena gue lihat temen-temen gue ini stress abis, ketawa nggak jelas akan hal-hal nggak jelas. (well, gue menikmatinya sejujurnya) Jadi, daripada makin nggak jelas lagi, mendingan gue bikin beberapa hal yang sekiranya bisa mengarahkan mereka pada suatu hal. Which is......

Yak! Klise sekali. Di saat gue menggebu2 seperti kompor gas yang baru lunas cicilannya. Pret. Mereka sama sekali tidak ada antusias-antusiasnya. Jangan ditanya gue sudah mencoba atau belum. Kalo di perilaku organisasi, ini namanya "Extinction", dimana seseorang melakukan suatu perilaku yang membuat seseorang lainnya capek sendiri dan memilih pergi.

HAHAHA. Gue menertawakan diri gue. Susah ya memang untuk menawarkan semangat. Coba kalo menawarkan keburukan, pasti cepet banget.

Buruuuuk deh pokoknya. Lebih baik mati minum baygon daripada mati karna nungguin orang lain jadi bisa diandelin. Mau sampe kapan del?

Oke, jadi as always yah, menulis itu menyembuhkan. Dengan gini gue sudah menyolusikan masalah ini sendiri, bahwa mengeluh itu buruk, meskipun kita pantas melakukannya. Mengeluh itu semacam membuang detik-detik berharga. Seperti sekarang ini.

What the hell deh ngapain gue capek-capek nge-post beginian? Mendingan gue bergerak, gue yakin meskipun pada akhirnya setiap pencetus ide akan menjadi tumpuan semangat orang-orang dan menjadi semacam 'pemimpin', tuh kan, pada akhirnya akan ada hal positif kok. Gue bakal lebih jago merencanakan sesuatu, gue lebih tau banyak orang dengan well, bisnis tuh capek ya, harus survey tempat, ngeliat kondisi pasar di sana, produk dan pemasaran gimana, and so on and so on.

Yah, namanya juga hidup. Hidup tanpa masalah tuh kayak ketek tanpa keringet. Garing!!!!